Logo Desa Ngrayun
Filosofi Logo:
1. Pohon pinus melambangkan hutan, kelestarian alam, keteguhan, serta karakter wilayah pegunungan Ngrayun.
2. Pegunungan merepresentasikan kondisi geografis Desa Ngrayun sekaligus keteguhan dan keseimbangan masyarakat dalam membangun desa.
3. Daun dan umbi porang menjadi simbol potensi unggulan desa, hasil bumi, serta peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
4. Lingkaran melambangkan persatuan, kebersamaan, dan pembangunan desa yang berkelanjutan.
Sejarah Desa Ngrayun
1. Asal-usul Nama dan Tokoh Cikal Bakal
Babad Desa Ngrayun bermula dari riwayat dua orang abdi Bupati Pacitan pada masa lampau, yaitu Mbah Apit dan Mbah Rayut. Mereka diutus untuk mengembara ke arah timur hingga sampai di daerah Bon Kandang (Baosan Lor). Di tempat tersebut keduanya berpisah; Mbah Apit berjalan ke arah Slahung, sedangkan Mbah Rayut menuju ke wilayah Dukuh Temon.
Karena merasa kurang betah di Dukuh Temon, Mbah Rayut kemudian berpindah ke sebuah kawasan yang saat itu masih berupa belantara pohon-pohon besar yang disebut Rayutan. Nama "Ngrayun" sendiri diambil dari nama tokoh sesepuh yang babad di wilayah tersebut, yakni Mbah Rayut.
2. Cerita Tradisi & Falsafah Keturunan
Dikisahkan dalam cerita tutur masyarakat, Mbah Rayut sempat menyusul Mbah Apit ke daerah Slahung. Saat melihat Mbah Apit memetik buah kelapa dengan cara digoyangkan (dhodhok/herog) hingga seluruh buahnya gugur, Mbah Rayut mengingatkan pentingnya berhemat dan memikirkan masa depan anak cucu. Beliau kemudian mencontohkan cara mengambil kelapa secukupnya saja (ditelung).
Di akhir riwayatnya, Mbah Rayut dan Mbah Apit wafat secara bersamaan dan dimakamkan dalam satu kompleks di daerah Ngapit, Kecamatan Slahung.
3. Sejarah Singkat Pedukuhan
Desa Ngrayun terbagi ke dalam lima pedukuhan yang masing-masing memiliki latar belakang sejarah tersendiri:
Dusun Krajan: Sejarah terbentuknya Dusun Krajan berjalan seiring dengan sejarah Desa Ngrayun itu sendiri, karena nama "Krajan" merujuk pada pusat pemerintahan/ibukota desa.
Dusun Sambi: Dibuka oleh Irodhono yang menjadi kamituwo pertama. Nama "Sambi" diambil dari perkataan istri Irodhono, yaitu kata samben (anak perempuan). Tokoh lain seperti Demang Margosono dan Kromomedjo menjadi perantara bergabungnya wilayah Sambi ke dalam tata pemerintahan Desa Ngrayun.
Dusun Tanjung: Nama dusun ini diambil dari keberadaan bunga Tanjung yang pada masa awal menjadi ikon unik dan banyak tumbuh di wilayah tersebut.
Dusun Nglodo: Dahulu merupakan kawasan tak berpenghuni yang dipenuhi pepohonan. Penamakannya diambil dari jenis pohon dominan di wilayah tersebut, yaitu pohon Lodo (pohon Gondang).
Dusun Ngganen: Merupakan dusun termuda yang terbentuk pada tahun 2018. Dusun ini merupakan hasil pemekaran dari Dusun Sambi akibat pertambahan jumlah penduduk yang pesat.
4. Silsilah Kepemimpinan Kepala Desa
Pemerintahan Desa Ngrayun dari zaman kolonial hingga saat ini telah dipimpin oleh beberapa Kepala Desa, antara lain:
Kromomedjo (... – 1938)
Martosudarmo (1939 – 1966)
Soemodirdjo (1967 – 1990)
Budi Wiyono, Bc.Hk. (1990 – 2007)
Suyatman (2007 – 2013)
A.E. Theodoros M. (2013 – Sekarang)
Visi
Misi
"Mewujudkan Management Pemerintahan yang Terbuka dan Pembangunan yang Merata Dalam Rangka Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Ngrayun"
Bersama masyarakat memperkuat kelembagaan desa yang ada sehingga dapat melayani masyarakat secara optimal;
Bersama masyarakat dan kelembagaan desa menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan yang partisipatif;
Bersama masyarakat dan kelembagaan desa dalam mewujudkan Desa Ngrayun yang aman, tentram dan damai;
Bersama masyarakat dan kelembagaan desa memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Letak Geografis
Secara geografis, Desa Ngrayun terletak di kawasan dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Desa ini berada di wilayah Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dengan total luas wilayah mencapai 1.787,93 hektar. Wilayah Desa Ngrayun memiliki batas-batas administratif sebagai berikut:
Sebelah Utara: Desa Pelem, Kecamatan Bungkal
Sebelah Selatan: Desa Sendang, Kecamatan Ngrayun
Sebelah Timur: Desa Cepoko, Kecamatan Ngrayun
Sebelah Barat: Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun
Jarak tempuh dari pusat pemerintahan Desa Ngrayun menuju ibu kota Kecamatan Ngrayun adalah sekitar 0,5 kilometer, sedangkan jarak ke pusat ibu kota Kabupaten Ponorogo kurang lebih 21 kilometer.
Demografi
Desa Ngrayun dihuni oleh 7.226 jiwa yang terbagi ke dalam 2.129 Kepala Keluarga (KK) dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 404,38 jiwa/km².
1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Laki-laki: 3.661 jiwa
Perempuan: 3.565 jiwa
2. Persebaran Wilayah Administrative (Dusun)
Penduduk Desa Ngrayun tersebar di 5 dusun utama yang mencakup total 63 RT dan 23 RW:
Dusun Krajan: 16 RT / 6 RW
Dusun Sambi: 13 RT / 4 RW
Dusun Tanjung: 12 RT / 5 RW
Dusun Ngganen: 11 RT / 3 RW
Dusun Nglodo: 11 RT / 5 RW
3. Mata Pencaharian Utama
Sektor dominan yang menjadi tumpuan ekonomi warga Desa Ngrayun meliputi:
Sektor Pertanian & Perkebunan: Pemilik usaha tani (2.411 orang) dan buruh tani.
Sektor Perdagangan & Swasta: Pengusaha perdagangan hasil bumi (240 orang) dan karyawan perusahaan swasta (240 orang).
Sektor Jasa & Lainnya: Sopir, pekerja migran, PNS/TNI/POLRI, serta tenaga pendidik dan kesehatan.
4. Agama & Kewarganegaraan
Agama: Seluruh penduduk Desa Ngrayun menganut agama Islam.
Kewarganegaraan: 100% Warga Negara Indonesia (WNI).
Potensi Desa
Desa Ngrayun memiliki berbagai potensi daerah yang beragam, mulai dari sektor hasil alam, kehutanan, hingga cagar budaya dan pariwisata yang tersebar di kelima dusunnya.
1. Potensi Pertanian, Perkebunan, & Kehutanan
Hutan Pinus & Hasil Hutan: Kawasan hutan produksi yang luas (664,87 Ha) didominasi oleh tanaman pinus yang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Pertanian & Perkebunan: Didukung lahan tegalan/ladang seluas 699,23 Ha dan sawah tadah hujan seluas 159,34 Ha yang menjadi komoditas utama pangan warga.
Perdagangan Hasil Bumi: Adanya sektor usaha perdagangan hasil bumi yang aktif mengolah dan mendistribusikan komoditas lokal keluar daerah.
2. Potensi Pariwisata & Cagar Budaya per Dusun
Dusun Nglodo: Memiliki daya tarik Wisata Religi Gunung Larung (situs petilasan Syekh Maulana dan Tumenggung Alap-Alap) serta jalur/trek olahraga sepeda gunung.
Dusun Tanjung: Terdapat objek wisata alam Watu Putih.
Dusun Sambi: Kaya akan situs dan spot alam seperti Watu Bonang, Kalisong, Gunung Mujingan, Dung Lesung, Watu Rongko, Dung Milon, Dung Singgrong, hingga Puthuk Nyemplo.
Dusun Krajan: Memiliki cagar budaya dan peninggalan bersejarah seperti Linggayoni (copil), Mbeji, dan Watu Kursi.
Dusun Ngganen: Memiliki fasilitas publik dan ruang kumpul warga berupa Gazebo Desa.
3. Potensi Usaha Ekonomi Desa
BUMDes & Usaha Mikro: Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta puluhan toko kelontong dan usaha perdagangan skala rumah tangga yang menopang kebutuhan harian masyarakat di tiap dusun.
Data Statistik